Rabu, 12 April 2017

The Guys


Di hari mnggu (9/4) dan puluhan orang follwers  sosical media fanpage Maybelline pergi ke Plaza Senayan. Kita di ajak sama Maybelline untuk nonton bareng gala premiere The Guys dan  meet n greet  The Guys.




gambar 1.1 aku sedang nonton primere The Guys




Siapa yang tak kenal dengan Raditya Dika yang mempunyai multilenta (sutradara , penulis serta komika).  tahun ini Raditya meluncur sebuah film yang ke 10 yang berjudul The Guys dimana Raditya yang mempunyai peran besar dalam pembuatan ini film (bintang utama, penulis dan skenario). Dimana film ini mengkisahkan pengalaman pribadi Raditya sebagai pekerja kantoran.




Film The Guys ada sesuatu yang berbeda di mana dari film Raditya sebelumnya menampilkan artis dari negara Thailand yaitu Pongsiri Bunluewong sebagai Sukun dan Baifern sebagai adik Sukun. Mereka menggunakan akan berdialog Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. dan juga ada artis ibukota Pevita Pearce

Film The Guys itu sendiri terdapat unsur cinta, keluarga dan persahabatan. film The Guys menceritakan Alfi (Raditya Dika), karyawan yang bercita cita menjadi bos, ingin mendapatkan cinta Amira (Pevita Pearce), teman sekantor dan anak bosnya, Jeremy (Tarzan). Ketika Alfi dekat dengan Amira, ternyata Jeremy juga suka dengan ibu Alfi (Widyawati). Keduanya kebetulan sudah lama hidup sendiri. Masalah timbul ketika Via, gebetan abadinya, yang tadinya mengabadikan Alfi, mulai menunjukan rasa cinta untuk menyelesaikan masalahnya dan mencapai cita-citanya Alfi dibantu teman-temannya, termasuk Sukun (Pongsiri Bunluewong), karywan ekspat dari Thailand.


Film : The Guys
Sutradara : Raditya Dika
Produser : Sunil Soraya
Penulis : Raditya Dika, Sunil Soraya, Donny Dhirgantoro
Musik : Andika Triyadi (background score), Nidji (song) 

Produksi : Soraya Intercine Films


Pemeran :
Raditya Dika sebagai Alfi
Pevita Pearce sebagai Amira
Widyawati sebagai ibu Yana (ibu Alfi)
Tarzan sebagai Jeremy (ayah Amira)
Pongsiri Bunluewong sebagai Sukun
Indra Jegel sebagai Aryo
Richard Kyle sebagai Kevin
Marthino Lio sebagai Rene
Caitlin Halderman sebagai Via


Wah makin nggak sabar menantikan film terbaru Radit. Apalagi melihat Aksinya sicantik bersama Pevita Pearce. Nantikan di Bioskop-bioskop Kesayangan Anda Mulai tanggal 13 April 2017.









Kamis, 06 April 2017

Fenomena Artis Mengindap Penyakit Kanker


Saat pertama kali mendengar penyakit kanker adalah hal yang sering dicap sebagai penyakit menakutkan dan mematikan, kanker bisa di atasi dengan penangan medis yang tepat. Hal itu yang di alami oleh 2 artis (Ria Irawan dan Aldi Taher) dalam acara Bintang Funtalkshow " Cara Selebriti Melawan Kanker". yang diadakan Bintang Indonesia bekerjasama dengan RSU Bunda Jakarta, Venus, dan Artotel Sarina, kamis (30/3). Selain Ria dan Aldi, acara ini juga menghadirkan narasumber ahli dr. Afrimal Syafarudin SpB (K) Onk dari RSU Bunda Jakarta.


Bapak  Rury Masrur, Bapak dr. Afrimal Syafarudin SpB (K) Onk, Aldi Taher, Ria Irawan
(Dari Kiri ke Kanan)


Acara ini di selenggarakan di salah satu ruangan Artotel sebelum memasuki ruangan peserta workshop melakukan registrasi dan di sebelah meja registrasi terdapat booth untuk tes kesehatan yang meliputi tes gula darah, cek lemak tubuh dan tensi, selain tes kesehatan juga terdapat cek kulit wajah di mana peserta workshop bisa mengikuti tes ini sebelum acara di mulai. 



 peserta workshop sedang memeriksakan cek gula darah dan tensi


peserta workshop sedang memeriksakan kulit wajah


Acara talkshow di pandu oleh MC Rury Masrur, sebelum ke narasumber menceritakan pengalaman penyakit kanker, mc menyapa kepada para peserta workshop yang ternyata sebagian peserta pernah mengindap kanker untuk sharing tentang pengalaman tentang penyakit kanker yang dideritanya dan juga hiburan oleh Vira Respati. Dalam acara tersebut, Ria Irawan dan Aldi Taher sebagai pengisi acara, berbagi pengalaman mereke melawan penyakit kanker. Ria yang tengah menjalani kemoterapi kembali setelah divonis kanker endometriosis untuk kedua kalinya bercerita bahwa penyakit kanker memang perlu perhatian khusus dan pengobatan yang teratur. "Pengobatan medis itu yang utama ketika seseorang sudah terkena kanker tidak ada yang lain. Jangan percaya sama pengobatan di luar medis karena saya sudah coba semuanya, tak ada yang berhasil." ungkap Ria Irawan. Tak berbeda dengan Ria Irawan, Aldi Taher yang mengaku sempat tak ingin menjalani kemoterapi tersebut pun berpendapat demikian. "Waktu itu, aku sempet mau mundur dari kemoterapi. Tetapi istriku yang kebetulan dokter gigi mengingatkan bahwa perkembangan sel kanker harus dihentikan dengan kemoterapi." cerita Aldi Taher. Aldi pun mengingatkan bahwa kanker merupakan penyakit yang jarang atau bahkan minim gejala sehingga gejala sekecil apapun harus segera ditangani oleh pihak medis. "Kanker itu silent killer. Jika misal ada benjolan asing di tubuh yang bahkan tidak sakit sekalipun, harus tetap diwaspadai," tutup Aldi. Selain berbincang tentang penyakit yang dideritanya, Ria juga berbagi kiat tentang pentingnya kemoterapi buat penderita kanker. Hal yang sama juga ditegaskan Aldi. Afrimal menambahkan, kemoterapi – sejauh ini – adalah cara terbaik untuk melenyapkan sel kanker payudara, getah bening maupun serviks. Ria mengingatkan, dalam mencapai hidup sehat, bukan hanya pola makan yang harus dibenahi, tapi juga pola gerak dan pola pikir dan juga dukungan keluarga terdekat terutama orang tua sangat memberikan support kepada penderita kanker dan juga sharing sesama penderita kanker bisa membuat semangat hidup. 


Acara ini diharapkan dapat membantu untuk menyebarkan semangat dan peduli dengan kanker dan acara pun di tutup dengan penampilan Duo Lada.




















Selasa, 13 Oktober 2015

tak hanya jual kopi luwak

Dari sebuah rumah kecil, tiga perempuan yang masih satu keluarga, Syahminar, Erniwati dan Umul Khairi dengan cara kreatif, sukses memperkenalakan kopi luwak organik produksinya ke berbagai belahan dunia. Sejak dirintis tahun 2006, kemudian masuk dalam buku wisata dunia Lonely Planet, usaha yang bernama Rafflesia Luwak Coffe ini makin populer.

Hingga kini, sekitar 10.000 turis mancanegara tercatat telah berkunjung ke sana. Mereka tidak hanya menikmati, tetapi juga membawa pulang kopi luwak organik produksi tiga perempuan ini.

Umul menuturkan, berawal saat Rio Wardahana, anak Syahminar, yang juga memandu wisata, bertemu Troy Davis di Bukittinggi. Troy berasal dari Australia adalah pemilik kafe kopi luwak non organik ( kopi dari luwak yang dibudidayakan ) di Bali. Selain berwisata, kunjungan Troy ke Sumatera Barat (SumBar) untuk mencari kopi luwak organik. Troy meminta Rio mencarikan orang yang bisa membantunya.

"Rio memberi tahu kepada kami tentang Troy. Setelah berdiskusi baik dengan Syaminar, Erniwati dan Troy, kami menyanggupi untuk mencari kopi luwak organik ( kopi dari kotoran luwak liar)," kata Umul saat di jumpai di di rumah sekaligus tempat usaha mereka di Desa Batang Palupuh, kecamatan Palupuh, kabupaten Agam, SumBar.

Mereka bertiga pun berkeliling ke sejumlah daerah di SumBar yang memiliki kebun kopi. Mereka mencoba ke Sidikalang, Sumatera Utara. Setelah menjalani pencarian selama beberapa bulan, mereka akhirnya menemukan daerah penghasil kopi luwak organik di Kabupaten Solok dan Agam. Modal awal mereka saat itu hanya Rp.500.000.

"Kami berkerja sama dengan petani kopi pada 10 desa di sana. Mereka mengumpulkan biji kopi yang masih dalam bentuk bongkahan kotoran luwak. Kami mengolahnya, mencuci, menjemur, menumbuknya dengan lesung.    


Dalam keadaan belum digoreng (unroasted bean). Umul mengirimnya kepada Troy di Bali. Dalam sebulan, mereka bisa mengirim sekitar 40 kilogram dengan harga saat itu sekitar Rp.80.000 per kg. Kegiatan ini sudah berjalan hampir tiga tahun, 2006 - 2009.

Syahminar menambahkan, selain kerja sama dengan Troy, mereka juga melihat peluang usaha. Mereka mulai belajar mengolah sendiri kopi luwak untuk dipasarkan dengan merek Rafflesia Luwak Coffe. Tempat usaha mereka memang dekat dengan Taman Rafflesia yang ditumbuhi dengan bunga-bunga Rafflesia.

"Kerja sama dengan Troy berakhir karena dia harus kembali ke Australia tahun 2009. Kami pun belajar secara otodidak tentang kopi luwak, cara pengolahan, pengemasan hingga pemasaran, termasuk ke luar negeri. Dulu, bungkus kopi cuma plastik tanpa merk. Kini kopi luwak mereka di kemas plastik lengkap dengan merk.

Cara kraetif 
Lokasi dekat Taman Raffelsia saat awal memberikan keuntungan tersendiri. Karena menjadi salah satu destinasi wisata, turis juga menyempatkan mampir ke Rafflesia Luwak Coffe.

"Pengujung pertama kami tahun 2006 adalah seorang wisatawan asal Jerman. Padahal, kami belum masuk buku Lonely Planet. Keberadaan kami menyebar dari mulut ke mulut. Wisatawan asing makin banyak datang, Jumlahnya nakin banyak bertambah sejak media asing melaporkannya. Sambil memperlihatkan empat buku tamu nama wisatawan yang berkunjung.

 Wisawatan manacanegara yang datang berasal dari Jerman, Austria, Belanda, Perancis, Swiss Inggris, Italia, Romania, Spanyol, Belgia, Amerika Serikat, Malaysia, Korea, Tiongkok, dan Vietnam. Latar belakang mereka beraneka ragam mulai dari peneliti, pencinta kopi, guru besar hingga jurnalis. Mereka tidak hanya memuji rasa kopi luwak dari Rafflesia Luwak Coffe, tetapi juga cara Umul memperkenalkan kopi luwak.

Setiap tamu yang datang memang tidak sekedar disuguhkan kopi luwak. Namun, mereka juga mendapatkan pengetahuan tentang proses panjang produksi kopi luwak, manfaat kopi luwak, alasan kopi luwak organik lebih enak, hingga proses kopi luwak terbentuk.

Bagi wisatawan yang tidak membeli hanya membayar Rp.20.000 untuk secangkir kopi luwak yang di sunguhkan. Sementara untuk yang membeli, baik kopi luwak bubuk atau bijian yang sudah digoreng di jual Rp 20.000 per 100 gram. Sementara untuk 1 kilogram kopi luwak Rp 2.000.000. bagi mereka
yang membeli di atas 200 gram juga bisa ikut mencoba menggoreng kopi.

Sejak tahun 2009 hingga sekarang Rafflesia Luwak Coffe melibatkan sembilan orang, termasuk Syahminar, Umul, Erniwati dan enam orang lagi yang semuanya perempuan merupakan warga sekitar seiring makin banyaknya pengunjung. Dari semula hanya 200 orang tahun 2006, pada tahun 2015 sudah sekitar 10.000 orang. Sebagian besar wisatawan mancanegara.

Keuntungan usaha mereka juga bertambah setiap tahun. Dari sekitar Rp 30.000.000 pada tahun 2006. Kini bisa mencapai Rp 200.000.000 per tahun.

Umul, Syahminar, dan Erniwati optimistis, usaha mereka akan jalan karena tetap mengedepankan keramahan dan pelayanan terbaik. Dibalut dengan cara yang kreatif, harum aroma dan nikmat rasa kopi luwak dari Rafflesia Luwak Coffetelah membuat banyak orang tergoda utntuk mampir kesana.